PT-CMP.COM

Asosiasi baja Asean meminta pembahasan membanjirnya produk baja dari China

,29 Des 2017,00:00:00 WIB, 329 View
Google+
WhatsApp

Asosiasi baja Asean meminta pembahasan membanjirnya produk baja dari China dilakukan di tingkat pemerintah karena aktivitas ekspor dari negera Tirai Bambu itu telah mengancam industri di negara Asean.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan pertemuan anggota South East Iron and Steel Institute (SEAISI) di Hanoi pekan lalu membahas isu utama ter kait dengan banjirnya impor China ke negara Asean yang dinilai merupakan praktik unfair trade.

â??Agenda utama pertemuan di Hanoi ke marin membahas perlindungan pasar baja nasional masing-masing negara dari serbuan barang China yang notabene unfair.

Maka kami mengusulkan yang disebut Asean China FTA Join Committe,� katanya pada Bisnis, akhir pekan lalu. Tujuannya, untuk mendorong China agar mengatur arus perdagangan bajanya sehingga tetap memberikan manfaat bagi negara importir. Dia menjelaskan, kajian tersebut tengah diusulkan untuk dibahas dalam forum diskusi antara pemerintah negara Asean dan China yang diagendakan pada Agustus.

â??Tapi dengar-dengar, pihak China menolak untuk membahas masalah suplai yang membanjir ke Asean karena pemerintah di sana tidak tahu detail permasalahannya. Tapi kalau kita ketemu asosiasinya mereka bilang itu urusan pemerintah. Lalu beberapa saat harga naik tapi ternyata tidak signifikan,â? ujarnya.

Hidayat mengatakan perlu adanya sistem proteksi dari internal negara untuk melindungi baja di sektor hulu seperti pemberlakuan tarif perlindungan seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD).

â??Masalahnya di hilir tidak ada proteksi sehingga bebas dan liar begitu. Tapi hulunya tolong dong anti dumpingnya dilaksanakan karena sudah ada buktinya dari Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). Kalau anti dumping ini bisa dilakukan serentak dengan safeguard, menurut saya ideal,â? tuturnya.

IMPOR TURUN

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor mengalami penurunan sebesar 24,4% pada 2015 menjadi US$6,3 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun secara volume penurunan hanya berkisar 0,05% atau menjadi 11,6 juta ton pada 2015 dari 12,3 juta ton pada 2014.

Hidayat mengatakan selama terjadinya unfair trade tersebut ada pihak yang merasa untung karena harga belinya murah terutama pengusaha di level hilir. Namun, dia khawatir barang-barang tersebut tidak jelas kualitas dan standarnya.

â??Amerika saja menaikkan [BMAD] 500%, kenapa kita takut. Kalau alasan nya kurang suplai di lokal itu kan bisa diatur, yang penting mereka menggunakan lokal dulu. Ini lokal saja belum terpenuhi kapasitasnya karena pasarnya diganggu, malah sudah impor, kapan industri bisa efisien,â? katanya.

Amerika Serikat menaikkan tarif BMAD menjadi lima kali lipat untuk baja produk cold roll coil (CRC). Di Indonesia, CRC dimanfaatkan untuk pabrik seng, pipa, galvanis, sinalum, dan gavalum.

Hidayat menuturkan pertemuan tersebut juga sempat mencuatkan ide untuk menyamakan standar baja bagi sepuluh negara Asean, tapi menurutnya hal itu masih wacana jangka panjang karena tiap negara memiliki standar masing-masing.

Sebelumnya, pemerintah tengah mengkaji rencana pemberlakuan tarif proteksi atau safeguard di baja level hilir.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Ke menterian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan perlindungan berupa pengenaan tarif tidak bisa diberlakukan di semua sektor.

â??China tidak peduli, mau dari hulu sampai hilir diserang semua. Kalau in dustri maunya semua diproteksi, tapi kan enggak mungkin, jadi kami musti agak selektif. Misal hilirnya,â? ujarnya.

 

Sumber : Bisnis Indonesia

 

 

Kategori

News & Events

Berita Lain